
Kiai Wahid adalah mantan Ketua PCNU Kota Probolinggo dan aktif dalam aktivitas keagamaannya bersama masyarakat.
KEDOPOK – Setelah mengikuti agenda Sidang Paripurna di DPRD Kota Probolinggo, Rabu (5/8) siang, Wali Kota Dokter Aminuddin takziah ke rumah duka salah satu ulama besar di kota ini, Kiai Abdul Wahid Fauzi Siroj. Di mata Dokter Aminuddin, almarhum adalah sosok yang bisa menjadi suri tauladan bagi masyarakat.
Kiai Wahid adalah mantan Ketua PCNU Kota Probolinggo dan aktif dalam aktivitas keagamaannya bersama masyarakat. Selain sebagai imam Masjid Al Arief, almarhum juga pembina jemaah yasinan di wilayah Kecamatan Kedopok dan sekitarnya. Kerap diundang menjadi penceramah di luar kota seperti Lumajang, Jember, Situbondo dan daerah lainnya.
Saat di rumah duka Jalan Mastrip Gang Mangga, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, wali kota ditemui istri almarhum Satumi Rahmawati dan anak keduanya, Ahmad Fuad Awfaz.
“Abah bersama kami di Malang untuk berobat. Sebelum pulang ke Probolinggo, minta ke rumah saya yang baru dan beliau belum pernah kesana. Selasa (6/8) pagi, sekitar jam 6 beliau meninggalnya,” tutur Ahmad Fuad, yang kesehariannya mengajar sebagai guru di SMK Negeri 13 Malang.
Sejak Desember tahun lalu, almarhum yang tutup usia di 63 tahun mengalami pembengkakan jantung. Sejak lama, almarhum berpesan kepada enam anaknya, jika tiada dia minta dimakamkan di pemakaman umum Jrebeng Lor, tempat asalnya.
Berdasarkan cerita keluarga, Ustaz Wahid – meninggal dunia dalam keadaan sujud di dalam rumah. “Ini sungguh suatu tanda berakhirnya kehidupan seseorang dalam keadaan husnul khotimah. Kita terus doakan,” ujar Dokter Aminuddin.
Ia menceritakan, sudah cukup lama mengenal almarhum sejak tahun 2010 lalu. Dalam komunikasi di berbagai macam kesempatan, wali kota menyadari Kiai Wahid merupakan sosok tauladan. Di masjid Al Arief Jalan Mastrip, almarhum sudah menjadi imam salat 5 waktu selama 26 tahun.
“Insyaallah semua masyarakat di sini pasti menyatakan beliau sosok yang menjadi panutan. Ulama yang bisa memegang betul kaidah yang harus dijalankan oleh seorang ulama. Kadang saya tersanjung, beberapa keadaan beliau yang biasa memberikan tausiyah, ini malah saya yang disuruh. Pak wali aja, katanya. Ini merupakan kehormatan,” kenangnya.
Kabar duka ini didengarnya saat sedang ada pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri di Surabaya, Selasa (4/8). Acara yang berlangsung di Gedung Grahadi hingga malam hari. Disusul pagi ini ada kegiatan paripurna. Oleh karena itu, ia baru bisa takziah di hari berikutnya bersama Asisten Perekonomian dan Pembangunan Aries Santoso, Kabag Kesra Samsul Arif, Camat Kedopok Dwi Hermanto dan Lurah Jrebeng Wetan Erwin Kushermanto.
Pada kesempatan itu, wali kota juga memimpin doa menutup kunjungannya. “Insyaallah husnul khotimah dan saat ini beliau ada di surganya Allah SWT. Aamiin,” tutur Dokter Aminuddin.
Diketahui, almarhum juga mantan Ketua IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kota Probolinggo, Alumni Senior PIQ (Pesantren Ilmu Al-Quran) di Singosari serta pembina Qori’ Probolinggo Raya.
“Empat atau tiga hari sebelum berangkat ke Malang, beliau masih ngimami salat Subuh. Pengajian rutin Minggu habis Subuh beliau juga masih memimpin dan menjadi kegiatan rutin di Masjid Al - Arief. Jemaah beliau banyak termasuk saya. Luar biasa sekali upaya beliau memakmurkan masjid dan membina masyarakat,” ujar Asekbang Aries Santoso, yang rumahnya bertetangga dengan Kiai Wahid. (fa/pin)